Peningkatan Kualitas Produk Keramik Dengan Pendekatan Six Sigma Pada Industri Keramik Dinoyo – Malang bertujuan menerapkan konsep Six Sigma untuk mengurangi terjadinya cacat dan menekan adanya variabilitas yang terjadi pada proses pembuatan keramik. Proses perbaikan dilakukan secara sistematis dan kontinyu dengan menggunakan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve and Control).
Dengan menggunakan diagram Pareto diperoleh dua jenis cacat kritis yang menjadi permasalahan utama yaitu retak dan bintik melepuh. Selanjutnya alternatif-alternatif perbaikan pada proses diperoleh dengan FMEA. Berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN) yang tertinggi diambil 3 alternatif perbaikan dan selanjutnya dipilih satu alternatif terbaik dengan menggunakan metode AHP. Implementasi perbaikan dilakukan dengan menggunakan timer dan menugaskan operator khusus pada saat pembakaran untuk mengurangi cacat retak dan membersihkan kotoran bodi dengan menggunakan kompresor untuk mengurangi bintik melepuh. Setelah dilakukan evaluasi hasil implementasi alternatif perbaikan pada proses pembuatan keramik diperoleh kenaikan level sigma dari 2,8 menjadi 3 yang diikuti penurunan DPMO dari 104.167 menjadi 65.625. Sedangkan prosentase biaya akibat kualitas keramik yang jelek (COPQ) terhadap total penjualan mengalami penurunan dari 16,48% menjadi 9,93%.
Sentra industri keramik Dinoyo adalah salah satu daerah yang terkenal akan produksi keramik di kota Malang. Sebagian besar hasil produksi sentra industri keramik Dinoyo adalah berupa aneka souvenir keramik dengan berbagai bentuk dan ukuran mulai dari vas bunga, guci, pot dan produk lain, diantaranya gerabah, perlengkapan listrik, mangkuk, serta piring. Penjualan keramik tersebut tidak hanya dipasarkan ke dalam negeri bahkan sudah diekspor ke luar negeri, sehingga dapat dikatakan sentra industri keramik Dinoyo mempunyai peran yang besar dalam menunjang industri pariwisata dalam perolehan pendapatan daerah Malang.
Namun akhir-akhir ini dapat dilihat persaingan produk keramik Dinoyo semakin ketat dengan masuknya keramik Cina yang memiliki kualitas baik dengan harga murah sehingga menuntut pengusaha-pengusaha pada sentra industri keramik Dinoyo berusaha secara terus menerus menghasilkan keramik dengan kualitas yang baik dan mampu memuaskan keinginan konsumen. Dari pengamatan pada beberapa pengrajin keramik dengan pembakaran menggunakan tungku berbahan bakar minyak tanah, ternyata proses produksi yang dilaksanakan saat ini masih sering ditemukan masalah-masalah teknis dan non teknis yang menyebabkan produk keramik yang dihasilkan cacat diantaranya timbul retak, pecah, adanya bintik pada permukaan keramik, keramik tidak matang, dan susut.
Berdasarkan kondisi tersebut maka usaha secara terus menerus untuk mengurangi dan mengendalikan variasi yang terjadi pada proses harus dilakukan. Dari penelitian yang dilakukan oleh Sucahyo [14] diperoleh kemampuan proses di beberapa industri keramik Dinoyo masih di bawah satu sehingga produk tidak sesuai spesifikasi masih cukup banyak terutama dari dimensi panjang, tebal, diameter atas dan bawah dari vas. Dalam penelitian tersebut diusulkan monitoring proses dengan membuat peta control X dan R. Namun penggunaan peta kontrol tersebut tentunya masih kurang, selama penyebab dari cacat-cacat tersebut tidak dihilangkan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menerapkan konsep Six Sigma untuk mengurangi terjadinya cacat dan menekan adanya variabilitas yang terjadi pada proses pembuatan keramik.